Debut Askeladd telah dimulai sejak akhir episode kedua anime Vinland Saga, ketika Floki membuat kesepakatan dengannya untuk membunuh Thors. Di awal kemunculannya, sosoknya ditampilkan sebagai antagonis, seorang kapten viking yang tak punya sopan santun dan hanya peduli uang (dia menerima tawaran lima karung emas untuk membunuh Thors). Pasukan vikingnya sendiri hanyalah orang-orang kumuh, barbar, tak bermoral, dan hanya doyan bersenang-senang.
Dalam rencana pembunuhannya, Askeladd telah menyiapkan pasukan di sebuah pulau untuk menjebak Thors. Meski terjebak, Thors yang merupakan mantan komandan Jomsviking mampu melawan pasukan Askeladd seorang diri hingga memojokkan Askeladd untuk menerima tantangan duel. Perjanjiannya, bila Tors menang, Askeladd harus melepaskan orang-orangnya. Sejak awal, kita pasti tahu kalau Thorslah yang akan memenangkan duel ini. Dia adalah karakter yang overpower dan julukan “Troll of Jom”-nya bukan omong kosong. Namun, duel berakhir dengan kematian Thors karena pasukan Askeladd di kejauhan menembakinya dengan anak panah ketika Askeladd terdesak sedangkan anaknya ditawan. Askeladd adalah seorang yang sangat licik dan cocok menjadi seorang antagonis, begitu pikirku tentangnya.
Namun, cerita terus bergerak seperti halnya hidup
Seiring keberjalanan cerita, kita semakin mengenali karakter Askeladd. Ia memiliki karisma yang kuat, sering tersenyum, dihormati orang-orang, tetapi tak segan dalam membunuh dan merampas. Sebenarnya, dia orang baik atau jahat sih? Karakternya begitu kompleks. Salah satu dari sekian banyak karakter yang dimilikinya adalah pemikir. Dia adalah seorang filsuf.
“… Orang yang jadi budak uang memegang cambuk dan pura-pura menjadi pemilik budak yang ia beli dengan uangnya. Dia tidak menyadarinya saja. Semua orang adalah budak dari sesuatu.”
begitu kata Askeladd di episode 8, ketika ia melihat pamannya memukuli budak perempuannya yang melakukan kesalahan. Sebelumnya, Askeladd mengobrol dengan seseorang yang membicarakan Thorfinn. Thorfinn merupakan putra Thors yang mengikuti Askeladd untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Jiwa kesatria Thorfinn hanya menginginkan untuk membunuh Askeladd dengan kehormatan melalui duel. Askeladd berjanji untuk memberinya duel bila ia mendapatkan pencapaian dalam perang.
Askeladd sangat memahami Thorfinn. Ia adalah seseorang yang diperbudak oleh masa lalunya. Dengan memanfaatkan rasa ingin balas dendam Thorfinn, Askeladd dapat menyuruhnya untuk melakukan berbagai hal dalam perang. Pekerjaan Askeladd justru dipermudah dengan keberadaan Thorfinn, meski setiap saat Torfinn selalu berpikiran untuk membunuh Askeladd. Aku melakukan ini agar bisa membunuhmu, itulah yang menjadi dasar penggerak Thorfinn. Bagaimanapun ...
ia sedang dimanfaatkan
Tak hanya Thorfinn, sadar atau tidak, setiap orang memiliki dasar untuk bergerak. Sebuah keyakinan. Dalam bahasa Arab, sesuatu yang mendasari seseorang disebut ilah. Kata ilah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tuhan. Semua orang menuhankan (meng-ilah-kan) sesuatu. Sebut saja yang paling sederhana, uang. Orang yang berambisi mengejar uang untuk kekayaannya dan menjadi depresi akut ketika kehilangan sebagian besar uangnya, tanpa disadari telah menuhankan uang. Ia telah menjadi budak uang.
Tak ada manusia yang bisa lepas dari perbudakan ini. Hanya dengan menjadi budaklah manusia memiliki alasan untuk tetap hidup. Manusia adalah makhluk hidup yang "menempel" pada sesuatu layaknya lumut (organisme sesil). Bahkan, mereka yang menyebut dirinya bebas. Kebebasan juga merupakan ilah itu sendiri. Menuhankan kebabasan artinya memperbolehkan tindakan sebebasnya. Namun, meski membuat manusia menjadi bebas, pada akhirnya kebebasan jugalah yang akan memberikan kekangan pada manusia di kemudian hari. Pergaulan bebas, kebebasan berpendapat, dan melakukan tindakan sebebasnya akan memberikan konsekuensi. Tak ada kebebasan yang mutlak. Inilah kenapa paham liberalisme memiliki batasan. Ia memiliki kelemahan.
Layaknya budak harfiah, tuan dalam perbudakan bisa melakukan apa pun. Ia adalah pengontrol utama tindakan manusia. Pengarah. Orang yang berpegang pada liberalisme akan bertindak layaknya liberalis, begitu juga orang yang berpondasi pada komunisme akan bertindak layaknya komunis. Seseorang yang meninggikan sains dan menghapuskan kata Tuhan akan membuat teori dengan asumsi dasar bahwa Tuhan tidak ada. Sebuah teori chaos yang penuh probabilitas. Para ilah ini memiliki karakter tertentu yang bisa membuat kita berbuat baik, berbuat jahat, merasakan bahagia, atau tertekan. Ilah bisa saja kuat atau lemah. Ia mungkin saja melindungi, tetapi tentu manusia takkan bisa berlindung kepada ilah yang lemah. Ketika ilah yang menjadi dasar hidupnya goyah, manusia akan kehilangan pondasinya.
Kata bahasa Arab lain yang diartikan Tuhan dalam bahasa Indonesia adalah Rabb. Rabb memiliki makna Sang Pencipta, pengatur seluruh tatanan semesta, Ia yang memberikan kasih sayang kepada manusia, menurunkan hujan, dan tak memiliki kelemahan. Para ateis bisa saja beranggapan bahwa Tuhan (Rabb) itu tidak ada, tetapi mereka pasti memiliki tuhan (ilah). Dasar pemikiran "Tuhan tidak ada" sendiri merupakan ilah dan dasar asumsi yang mengarahkan kepada pemikiran-pemikiran lainnya. Tak berbeda dengan dasar pemikiran "Tuhan ada" yang kemudian mengarahkan cara berpikir dan tindakan kedepannya. Kita mungkin tak pernah tahu betapa lemahnya ilah yang kita yakini. Lantas, kenapa kita menuhankan sesuatu sementara ada Tuhan?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar