Adalah anime Haikyuu yang merupakan serialisasi film dari adopsi manga karangan Furudate Haruichi yang mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Hinata Shouyou yang bercita-cita menjadi “raksasa kecil”, yaitu seorang pemain voli berbadan kecil namun menjadi pencetak poin yang banyak di suatu tim. Hinata adalah tokoh dengan keingan besar dalam voli namun hidup di lingkungan SMP yang tidak mendukung. Ekstrakulikuler voli di sekolahnya tidak berjalan dengan baik sehingga dia tidak dapat mengasah potensi dan kemampuan yang dimiliki. Dengan tekad yang kuat, dia berhasil mengajak beberapa teman untuk ikut bermain voli bersamanya hingga di level sekadar bisa main. Tim tersebut mendaftar ke kejuaraan voli SMP dan tentu tim Hinata langsung dikalahkan pada pertandingan pertama karena perbedaan kemampuan dari tim lawan yang adalah kandidat juara pertandingan ini. Berakhirlah masa SMP dengan kesedihan bagi Hinata, tetapi kemudian dia tetap memutuskan melanjutkan mimpinya dalam voli. Dia mendaftar SMA Karasuno yang jaraknya belasan kilometer dari rumahnya demi masuk ke sekolah yang telah menginspirasinya dalam voli. Ya, sosok "raksasa kecil" pernah bermain disana sekitar 5 tahun sebelumnya dan berhasil menjadi sosok Ace andalan pada kejuaraan nasional voli SMA meskipun tubuhnya kecil (tinggi 160-an cm).
Setelah bergabung di SMA Karasuno, Hinata mulai belajar dasar-dasar bermain voli. Bahkan dia berhasil menciptakan kombo unik bersama teman satu timnya yang merupakan pemain jenius. Hinata mendapat posisi middle blocker, tetapi itu terlihat tidak cocok baginya karena tinggi yang ia punya. Baru beberapa bulan bergabung, Hinata berhasil masuk sebagai starter tim voli Karasuno dan mengikuti kejuaraan voli musim gugur. Singkat cerita, mereka mendapat kekalahan oleh tim Aoba Johsai karena perbedaan skill dasar meskipun mereka bisa menekan tim lawan hingga masuk set ketiga. Namun, tekad mereka, khususnya Hinata untuk masuk ke pertandingan nasional dan menjadi sosok "raksasa kecil" tidak padam. Mereka melanjutkan latihan voli dengan keras untuk ikut serta dengan maksimal dalam kejuaraan akhir tahun. Target mereka tidaklah kecil, yaitu masuk ke pertandingan nasional di Tokyo. Untuk itu, mereka melakukan latihan yang sangat keras, bahkan hingga melaksanakan training camp ke Tokyo bersama tim-tim besar di sana. Hinata sendiri juga mendapat pelatihan khusus untuk memperkuat dasar bermain voli yang dimiliki, terutama dalam hal spike.
Kejuaraan Interhigh akhir tahun pun tiba
Tim Karasuno telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya, tetapi semua tim juga demikian. Karena masuk ke pertandingan nasional adalah impian setiap SMA di Prefektur Miyagi. Sebab hanya satu sekolah saja yang akan mewakili Prefektur Miyagi untuk bertanding di Nasional. Dan selama lebih dari 3 tahun terakhir kesempatan tersebut selalu diambil oleh SMA Shiratorizawa yang selalu berisikan pemain kuat terlebih saat ini ada seorang Ace 3 besar nasional! Pertandingan demi pertandingan dilalui oleh SMA Karasuno dan akhirnya berhasil masuk ke babak final prefektur setelah membalas kekalahan terhadap SMA Aoba Johsai. Pertandingan SMA Karasuno vs SMA Shiratorizawa akhirnya tiba. Pertandingan ini secara khusus ditayangkan dalam satu season anime yaitu Haikyuu!! S3 sebanyak 10 episode.
Pertandingan ini sangat luar biasa dan memacu adrenalin. Mengapa tidak? Ace 3 besar nasional memiliki kemampuan yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Spike yang diluncurkan sangat kencang membuat tangan yang menerimanya akan kesakitan bahkan luka. Selain itu, serve-nya juga sangat kencang dan sulit diterima. Pertandingan pertama dimenangkan oleh SMA Shiratorizawa dengan mudah. Pertandingan kedua dimenangkan oleh SMA Karasuno dengan perjuangan yang sangat keras dan perkembangan pemain yang tidak terduga saat bertanding. Pertandingan ketiga kembali dimenangkan SMA Shiratorizawa kembali dengan mudah. Memasuki set keempat pertandingan adalah fase tersulit SMA Karasuno. Karena mereka sebelumnya tidak pernah bermain lebih dari 4 set yang tentunya stamina mereka tidak cukup kuat untuk itu. Selain itu mereka harus memenangkan 2 set selanjutnya secara berturut-turut jika ingin masuk mewakili prefektur Miyagi bertanding di Tokyo. Dengan segala perjuangan yang penuh epik mereka akhirnya masuk ke set kelima. Namun, di akhir set kelima, mereka mendapatkan perasaan yang menegangkan. SMA Shiratorizawa hanya kurang satu poin lagi untuk mengamankan kemenangannya ke nasional. Semua pemain merasakan kelelahan yang luar biasa. Salah satu pemain inti SMA Karasuno juga sedang dirawat karena luka akibat banyak menerima spike dari Ace lawan. Di saat momen itu, sang pelatih dengan lantangnya mengatakan: “Jangan berani-beraninya kalian melihat ke bawah (menyerah)! Karena voli adalah permainan yang membuatmu selalu melihat ke atas!” Seketika suasana tim Karasuno berubah dan hingga akhir berjuang hingga mendapatkan kemenangan atas SMA Shiratorizawa dan menuju ke Nasional.
Jika kita lihat mundur, kemenangan tim Karasuno terhadap Shiratorizawa adalah suatu ketidakmungkinan. Secara kemampuan bermain tim mereka kalah jauh. Pengalaman akan pertandingan langsung 5 set yang menguras stamina tidak dimiliki SMA Karasuno. Secara kemampuan individu pun mereka sangat tidak sebanding dengan Shiratorizawa. Tapi apa yang dimiliki Karasuno yang mungkin melebihi Shiratorizawa? Yaitu tekad kemenangan dan maju ke nasional. Shiratorizawa yang notabene selalu menang merasa sedikit aman akan status quonya tersebut dan tidak menyangkan akan ada kambing hitam di Prefektur Miyagi. Faktor penentu kemenangan Karasuno juga dilihat dari perkembangan tiap pemain selama di lapangan yang terus menerus mencari suatu cara unik agar mereka dapat memasukkan poin. Selain itu pelatih mereka terus memotivasi untuk tidak menyerah hingga akhir. Empat poin faktor kemenangan karasuno: tekad yang kuat, kerja keras, unik, dan mentor tidak hanya berlaku bagi semesta Haikyuu!, tetapi juga dapat menjadi pembelajaran yang baik di dunia nyata. Manusia pastinya mempunyai banyak kelemahan dan kita akan merasa bahwa kondisi sekitar kita tidak ideal. Tapi apakah kita hanya terus mencari cari alasan agar tidak menjadi juara? Dan terus menjadi budak rasa ketidakmungkinan?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar