Shonen Jump, atau yang sekarang disebut Weekly Shonen Jump sejak dulu telah menghadirkan manga-manga fenomenal. Sebut saja Dragon Ball, Naruto, Bleach, dan tentunya One Piece yang bahkan menduduki posisi teratas penjualan sejak 2000. Tak hanya manganya, adaptasi animenya pun tak kalah fenomenal. Misalnya saja, siapa yang tak kenal Naruto? Anime ini dikenal baik dari kalangan wibu maupun non-wibu. Belum lagi anime yang tergolong baru seperti Boku no Hero Academia, Yakusoku no Neverland, dan Dr. Stone yang ditunggu-tunggu musim berikutnya.
Di antara semua manga dan anime Shonen Jump, Kimetsu no Yaiba atau Demon Slayer merupakan fenomena tersendiri. Studio Ufotable mempu mendongkrak kualitas anime garapannya itu jauh melampaui manganya, apalagi episode 19 yang oleh banyak penonton disebut-sebut sebagai momen terepik dalam sejarah anime. Episode 19 sendiri mampu mendongkrak penjualan manganya hingga melampaui One Piece meski dalam periode waktu tertentu saja. One Piece masih tetap merajai cerita shonen. Sayangnya, Kimetsu no Yaiba tamat tak lama setelah masa kejayaannya itu.
Premis yang dibawakan Kimetsu no Yaiba sebenarnya cukup sederhana. Ada iblis jahat yang menyerang manusia, dan ada organisasi pembasmi iblis yang bertugas memerangi iblis-iblis itu. Bandingkan dengan premis unik seperti yang dihadirkan Dr. Stone di mana semua orang tiba-tiba membatu karena cahaya misterius. Namun, apakah premisnya yang sederhana itu justru mampu menginspirasi para mangaka? Atau, apakah para mangaka justru terbawa dalam arus hype-nya Kimetsu no Yaiba sampai-sampai mereka tak terpikir ide lain selain pembasmian? Pasalnya, pasca berakhirnya manga Kimetsu no Yaiba, bermunculan manga “exorcist” atau yang kita sebut “pembasmian”. Bila kalian mengikuti situs manga resmi yang diluncurkan Shonen Jump, kalian pasti menemukan judul-judul seperti Ayakashi Triangle, Kaijuu #8, Phantom Seer, dan yang terbaru Our Blood Oath. Manga-manga tersebut secara umum bercerita soal serangan makhluk jahat, dan sang tokoh utama bertugas membasmi makhluk-makhluk jahat itu. Sampai-sampai, dalam kolom komentar, seorang fans menyebut majalah itu bukan lagi Shonen Jump, melainkan Exorcist Jump.
Ayakashi Triangle

Bercerita soal ninja exorcist, Kazamaki Matsuri, yang memiliki tugas untuk membasmi ayakashi sebagai bagian dari pekerjaan yang diwariskan turun temurun. Terlepas dari tugasnya itu, dia ingin melindungi teman masa kecilnya, Kanade Suzu, yang merupakan medium ayakashi. Sebagai medium, Suzu menjadi incaran para ayakashi untuk dijadikan tumbal, termasuk raja ayakashi, Shirogane untuk mencapai level yang lebih tinggi. Manga ini diceritakan tidak seserius Kimetsu no Yaiba, melainkan menekankan sisi komedi dan ecchi. Meski bertemakan exorcist, Ayakashi Triangle memiliki premis lain yang dapat mendukung unsur komedi dan ecchi-nya, di mana Matsuri sang tokoh utama mendapat kutukan dari Shirogane sehingga gendernya berubah menjadi perempuan di akhir chapter pertama. Cerita pun dimulai dari sini. Bagi saya, manga ini menarik untuk diikuti meski sekadar menjadi bacaan pengisi waktu luang. Hanya saja saya kurang suka dengan unsur ecchi-nya.
Monster #8

Monster atau dalam bahasa Jepang aslinya “kaijuu” merupakan makhluk raksasa yang menyerang kota (entah untuk alasan apa). Sang karakter utama, Hibino Kafka yang sudah berumur 32 hampir menyerah menggapai mimpinya menjadi anggota Badan Pertahanan, pasukan yang memberantas kaijuu. Dirinya yang berakhir menjadi pegawai perusahaan pembersihan monster kembali memperoleh semangat setelah mendapatkan hinaan dari Ichikawa Leno, seorang pekerja paruh waktu yang baru masuk ke perusahaan. Manga ini cenderung berani karena membawakan om om sebagai karakter utamanya, berbeda dengan manga shonen lain yang karakter utamanya berusia belasan. Manga shonen biasanya mengorbankan kerealistisan cerita demi menarik target pembaca. Bayangkan saja, dunia selalu diselamatkan oleh anak-anak SMA atau seumurannya. Selain berani, manga ini juga memiliki keseimbangan yang baik antara serius dan komedi. Situasi seperti perjuangan, pertemanan, dan janji masa kecil mewarnai keseriusan manga ini sebagai manga shonen. Di sisi lain, Kafka sebagai tokoh utama merupakan karakter yang lawak.
Phantom Seer
Kali ini, makhluk jahat yang mengancam manusia adalah phantom, yang didefinisikan sebagai makhluk nonmanusia penyebab hal-hal aneh dan terkadang memburu manusia. Pembasmi mereka disebut sebagai shaman. Cerita bermula ketika Katanagi Iori si tokoh utama yang merupakan shaman berbakat dipaksa kakaknya untuk menemui Aibetsu Riku yang memiliki kemampuan mendeteksi dan menarik phantom. Daya tarik manga ini terletak di tokoh utamanya. Kalau biasanya karakter utama memiliki sifat penuh semangat dan suka menolong, Iori cenderung beraura negatif, malas, dan hanya menolong ketika dipaksa. Sikap tokoh utama ini menjadi komedi tersendiri, dengan segala ekspresi yang ditampilkannya juga bagaimana interaksinya dengan orang lain. Misalnya, ketika dirinya tak segan-segan menganggap Aibetsu sebagai umpan. Karena masih baru, karakter sang tokoh utama belum banyak dieksplorasi. Tentu kita akan lebih banyak mengetahui kebenaran soal si tokoh utama seiring berjalannya cerita.
Our Blood Oath

Berkisah mengenai kakak beradik pembasmi vampir, manga ini memiliki cerita paling biasa dibandingkan manga-manga yang telah disebutkan. Mungkin salah satu alasannya adalah “masih baru”, jadi ceritanya belum banyak dieksplorasi. Namun, manga ini memiliki dua kekurangan sebagai manga shonen. Pertama, tidak ada unsur komedi. Sejak awal, cerita yang dibawa terlalu serius dengan penekanan pada hubungan kakak beradik tokoh utama, yaitu Hizuki Shin sang kakak dan Hizuki Ko sang adik. Kedua, tidak ada heroine atau tokoh utama perempuan. Di dua chapter yang telah dirilis, tidak ada karakter perempuan yang diperkenalkan selain vampir jahat dalam kilas balik kisah dua bersaudara itu. Lagi-lagi, mungkin alasannya “masih baru”, jadi heroine-nya memang belum ditampilkan. Meski demikian, karakter heroine merupakan karakter wajib yang bisa mewarnai manga shonen. Karakter perempuan bukan melulu soal romansa. Perbedaan sikap yang dibawakan antara karakter laki-laki dan perempuan dapat menghasilkan chemistry yang menarik dan penuh warna. Bila manga ini menginginkan penekanan cerita pada hubungan bersaudara tokoh utama dan hanya berfokus di situ, menurut saya ceritanya akan hambar. Tapi siapa tahu? Kita lihat perkembangannya nanti.
Di antara keempat manga tersebut, urutan dari yang paling saya rekomendasikan adalah Monster #8, Phantom Seer, Ayakashi Triangle, dan Our Blood Oath. Silakan baca dari situs web
mangaplus.shueisha.co.jp atau aplikasi resminya, Manga Plus Shuieisha karena itu merupakan dukungan tersendiri bagi perusahaan maupun mangakanya agar mereka tetap berkarya. Apalagi kalau kalian membeli volumenya ketika sudah terbit. Sebagai catatan, jangan sampai kalian memberi rating rendah untuk aplikasinya karena tidak ada bahasa Indonesia. Karena target pembacanya internasional, bahasa yang dipakai pastinya bahasa Inggris. Kalau kalian tidak bisa, ya belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar